Kawan, seberapa jauh kau berjalan? Seterjal apa batuan kehidupan yang kau lalui? Seberapa keras kau terjatuh? Pernahkah kau merasa perih dan pedih kawan?
Aku terdiam di sudut kamar ini. Dengan berjuta angan dan mimpi-mimpi yang harus aku gapai di hari esok. Bukan tidak mungkin darahku akan berceceran pada pertempuran melawan kepengecutan diriku. Sungguh, bukan aku tak mampu, tapi aku hanya takut. Aku sedikit butuh pelukan dan jabatan tangan. Aku yakin semua ini akan mampu teratasi dengan senyum kepuasan yang terlukis
di atas kanvas wajahku kelak.
Kawan, kau bias menggambar? Gambarlah seekor citah di atas buku gambar kertasmu, lalu kau beri nama citah itu aku. Ya, aku ini seekor citah yang harus terus berlari. Kini semua pilihan ada di pundakku. Aku terus berlari atau menjadi citah lemah yang mati karena rasa laparnya. Akulah si raja hutan yang siap menjaga semua yang kumiliki.
Dan aku bersumpah,
aku takkan melepas kalian. Ya,
kalian orang-orang terbaik di hidupku, yang tak akan kujual dengan sejuta koin emas pun.
Kadang, aku merasakan kepengecutan menggerogoti setiap sumsum tulang yang kini memang rapuh dan hamper patah.
Langkahku pun terpapah-papah. Bibirku menggigil menahan dingin yang semakin lama menyeruak memecahkan liputnya kulit. Tanganku gemetar hingga aku tak sampai bias untuk meraih semua yang ada di
hadapanku. Ya, aku terkadang menjadi orang yang
paling bodoh. Tapi ketahuilah aku ini kuat.
Aku ini adalah misteri dan akan tetap menjadi misteri sampai kau mampu mengenalku dengan cara yang berbeda. Cara
yang masih menjadi misteri.
